Senin, 18 Februari 2008

Sedang Bermimpikah Kita????

Sedang Bermimpikah Kita????

Oleh : Obeth S

Kahlil Gibran pernah menulis mutiara indah… ”Ada orang mengatakan kepadaku, jika engkau melihat ada budak tertidur, jangan digugah.. barangkali ia sedang bermimpi akan kebebasan”. Kujawab, “jika engkau melihat ada budak tertidur gugahlah dan ajaklah berbicara tentang kebebasan”.

Renung pengalaman Gibran di atas mau menekankan pada pentingnya aksi dari sekedar mimpi.

Kita semua pernah bermimpi… Tetapi pernahkah kita meraih mimpi itu????

Dalam benak kita ada banyak mimpi… memimpikan PMKRI yang maju dan jaya…

Menulis mimpi tentang kemajuan dan kejayaan PMKRI tak akan pernah selesai dan tak pernah habis...begitu kata seorang teman saya dalam diskusi lepas disebuah warung kopi dekat margasiswa.

Mimpi selalu menampilkan hal yang indah...Dalam mimpi saya bisa jadi orang kaya, punya pacar cantik dan hal-hal lain....singkatnya dalam mimpi semua hal bisa diraih. Keberhasilan meraih semua hal dalam mimpi membawa kita pada sebuah keadaan bahagia, bangga dan puas. Keadaaan tersebut merupakan dambaan setiap insan dan dengan berbagai macam cara, orang berusaha untuk memenuhi dambaan tersebut.

Cara setiap orang mendapatkan kebahagiaan sangat bervariasi, hal ini sangat dipengaruhi Sumber Daya Manusia, Budaya dan asal usul setiap orang. Ada yang hanya mengahabiskan waktu 1 jam sehari dengan pendapatan yang besar (bisa mebiayai hidup keluarga), tetapi ada juga yang bekerja dengan hampir menghabiskan seluruh waktu sehari, hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Hal tersebut, bukan hal yang asing lagi...tidak jarang pemandangan ini sering kita saksikan disekitar kita.

Tidak sedikit juga kita saksikan, orang disekitar..bahkan mungkin kita terjebak dalam romantisme dunia mimpi. Kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermimpi tanpa dibarengi aksi. Kita sering mengalah dan tunduk pada keadaan, lalu mencoba untuk menemukan keahagiaan dan memenuhi hasrat lewat jalan yang pintas, tanpa harus mengeluarkan energi dan waktu yang banyak…yaitu Bermimpi!!!!!!!!

Mimpi tetap akan jadi mimpi bila tidak dibarengi upaya untuk meraih mimpi itu. Meraihnya tentu tak dalam mimpi tetapi dilakukukan melalui tindakan praksis dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengerahkan segala potensi yang dimiliki dan dilakukan tanpa kenal lelah. Hanya dengan cara itu, hal yang tadinya hadir dalam mimpi dapat digengam (menjadi sebuah kenyataan).

Dalam konteks PMKRI, setiap anggota pasti bermimpi tentang sebuah kondisi perhimpunan yang ideal. PMKRI dikatakan ideal, bila visi dan misi PMKRI mampu diterjemahkan dan dilakukan oleh setiap kader dalam setiap gerak langkah perhimpunan dan dalam kehidupannya sehari-hari ditengah masyarakat. Dalam mimpi, itu terlalu mudah diraih. Tetapi praksisnya, kita temukan...tidak sedikit dari kita yang acuh tak acuh, merasa menang sendiri, menjadi wasit, penonton tanpa upaya merealisasikan mimpi itu.

Ketidakmampuan kita merealisasikan mimpi tentang sebuah kondisi PMKRI yang ideal menunjukan bahwa kita terjebak dalam dunia mimpi.

Sedang bermimpikah kita??????

Tidak, kata seorang teman mencoba meyakinkan saya dalam sebuah kesempatan diskusi menjawab pertanyaan sederhana di atas. Teman tadi dengan penuh semangat memberikan penjelasan lengkap dengan langkah-langkah strategis yang dibuat dalam upaya pencapaian visi-misi PMKRI. Baginya, visi-misi itu tidak mungkin bisa dicapai dalam waktu yang singkat. Yang bisa dilakukakn dalam waktu singkat hanya langkah-langkah strategis melalui program-program kegiatan yang mampu meransang kesadaran setiap anggota akan tujuan dari sebuah organissai. Langkah-langkah strategis itu juga diharapkan mampu membentuk karakter kemandirian kader yang mampu mengemban tugas dan perannya sebagai Bhayangkara Gereja dalam bingkai tiga benang merah kapanpun dan dimanapun.

Tentunya, hal-hal tersebut bisa tercapai melaui kerja kolektif setiap anggota dengan mengerahkan segala potensi yang dimiliki melalui keterlibatan dalam setiap aktifitas perhimpunan. Aktifitas yang dimaksudkan disini tidak hanya dalam kegiatan yang sifatnya formal, tetapi juga kegiatan nonformal dan informal.

Pertanyaan menggelitik kemudan yang timbul...

Sedang Bermimpikah kia???????

Sedang Bermimpikah kia???????

PMKRI Makassar Bakar Majalah Tempo

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Makassar, Sanctus Albertus Magnus, Rabu, 6 Februari siang kemarin menggelar demonstrasi di Jl Bottolempangan, depan rumah jabatan sekprov Sulsel.Mereka memprotes Majalah Tempo edisi 4-10 Februari 2008 (edisi khusus Soeharto) yang menampilkan gambar presiden RI kedua itu bersama anak-anaknya di meja makan.

Menurut mereka, gambar Soeharto berikut anak-anaknya itu sangat identik dengan gambar Yesus Kristus ketika mengadakan perjamuan malam terakhir bersama ke-12 murid-Nya sebelum wafat di kayu salib.

Sebagi bentuk protes terhadap edisi khusus Soeharto tersebut, mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi tersebut membakar Majalah Tempo edisi terbaru itu.

Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa Katolik yang sempat membakar ban dan menjadi tontonan pengguna jalan itu mengatakan, perjamuan makan malam terakhir merupakan peristiwa iman dan diyakini sebagai salah satu peristiwa penting dalam hidup menggereja. Sampai saat ini, peristiwa itu diperingati Gereja Katolik dalam setiap perayaan ekaristi.

"Kami sebagai bagian tak terpisahkan dari gereja dan bangsa Indonesia menyatakan sikap sebagai bentuk penolakan terhadap gambar yang ditampilkan majalah Tempo. Itu merupakan penghinaan dan pelecehan terhadap orang Kristen dan menodai kemerdekaan bangsa.

Yesus yang orang Kristen akui sebagai Tuhan yang diutus menyelamatkan manusia tidak sama dan tidak akan pernah sama dengan siapa saja, termasuk Soeharto," tegas Vincent, salah satu pendemo dari Universitas 45.

Dalam pernyataan sikapnya, PMKRI juga meminta manajemen Majalah Tempo menarik kembali Majalah Tempo edisi 4-10 Februari dari peredaran. Mereka juga meminta agar ada penjelasan dari pengelola Tempo tentang makna gambar yang ditampilkan di bagian sampul majalahnya.

"Tempo juga harus minta maaf lewat media kepada umat Kristen. Bila tidak dipenuhi dalam waktu 2x23 jam, kami akan kembali turun dengan massa yang lebih besar," ancam Vincent yang disambut teriakan rekan-rekannya.

Lantik Anggota Baru

Tanggal 20 Januari lalu, bertempat di Malino, Kab. Gowa, Prop. Sulawesi Selatan, PMKRI Makassar melantik 43 anggota baru. Mereka berasal dari berbagai Perguruan Tinggi yang tersebar di Kota Makassar dan sekitarnya.

Semula jumlah peserta MPAB-MABIM mencapai 80 orang. Tetapi setelah melalui proses, hanya bertahan 43 orang. Penerimaan anggota baru kali ini masih terbilang sukses karena kuantitasnya tetap lebih besar dibanding beberapa tahun terakhir.


Tema yang diusung, yaitu "REKONSTRUKSI PARADIGMA BERPIKIR MELALUI INTERNALISASI NILAI : UPAYA MENCIPTAKAN KADER INTELEKTUAL POPULIS", sangat relevan dengan kondisi PMKRI Makassar yang makin hari mengalami degradasi cara berpikir (kader) dan stagnasi dalam berbagai aspek.

Ketua Presidium PMKRI Cab. Makassar, Robert Endang Sabu..dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih kepada teman2 SC dan OC, staf DPC serta semua pihak yang telah mengambil bagian & telah berikan yang terbaik dalam proses penerimaan anggota baru..beliau juga mengucapkan proficiat bagi anggota baru yang telah mengikuti semua proses dengan baik, ini bukti awal kemauannya untuk bergabung diperhimpunan. Menjadi anggota PMKRI tidak hanya untuk melegitimasi status intelektual...tetapi menjadi anggota PMKRI merupakan pilihan untuk terlibat dalam upaya menebus amanat penderitaan rakyat.. pilihan yg diambil harus berdasarkan kesadaran akan tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa katolik Indonesia. tegas Robert.